Anak-anak

Anak-anak
Ical, Nadia, Kahfi

Minggu, 02 Desember 2007

PUTIH PADA SEPERTIGA MALAM

PUTIH PADA SEPERTIGA MALAM
Oleh: Iman Jaladri

Jam setengah tiga malam. Demikian kesimpulan setelah melihat jam dinding. Sebuah jam kenangan. Hadiah ulang tahun ke tiga jadian dengan Laila. Ulang tahun ke empat tidak sempat dirayakan karena sebulan sebelum sebelum waktunya, Laila tergilas kontainer tepat di kepalanya. Tanpa pesan dan firasat. Laila meninggal dan dikuburkan tanpa kehadiran dirinya. Dan sebagainya, ratusan bahkan ribuan cerita bisa mengalir dari benda berpigura pink yang sampai sekarang masih belum dikatahui harga dan tempat membelinya.
Jarum jam dibiarkan berdetik dan bermenit. Sebuah suara entah datang dari mana sangat menganggu pikiran, jiwa dan emosinya. Beberapa kali memaksakan mata untuk segera mengantuk, kemudian tidur sehingga bisa terbebas dari suara itu. Namun semakin diusahakan, mata itu malah semakin kuat mengajak berjaga. Dan suara itu makin terdengar keras. Mau tidak mau, pikirannya lalu mengidentifikasi suara itu. Seperti suara orang mengasah gergaji. Kreiat... Kreiat ... Bukan, tidak tepat. Seperti suara musang, tidak juga. Seperti suara orang menarik tripleks di jalan semen, kurang tepat. Kucing menggaruk dinding. Bukan. Seperti orang menggunakan ketam listrik. Nyaring nada tinggi. Tapi bukan.
Oh, sepertinya, itu adalah suara orang menarik pipi sebelah sambil menghirup udara keras-keras. Srrreeeaaaat ... Srrreeeaaaat. Dan itu adalah kebiasaan sebelum gerahamnya dicabut. Terutama dilakukan setelah makan untuk merontokkan sisa makanan yang menyelip diantara gigi yang berlobang. Suara itu tentu sangat akrab, dan tidak perlu melalukan interpretasi lagi. Tapi siapa yang melakukan pada pertiga malam seperti ini? Dan mengapa dilakukan sedemikian lama. Dan mengapa dilakukan di depan rumahnya. Dasar kadal, kecoak, cicak, semut buntung ... Ia begitu tersiksa dan menggerutu.
Lama-lama suara berubah-rubah. Suara itu kadang keras, berhenti sejenak, lembut, pelan, cepat, nada rendah, nada tinggi. Begitu acak dan tidak bisa dirumuskan frekwensi dan amplitudonya. Pelan-pelan ia bangun, keluar kamar ke ruang tamu. Belum lagi mengintip dari jendela, suara itu ada di samping kanan rumah. Iapun menuju jendela samping, dan suara itu pindah ke belakang rumah. Didatanginya dapur, suara itu pindah ke samping kiri rumah. Ia masuk kamar lagi, ingin mengintip dari jendela. Mendadak suara terhenti. Diputuskan untuk berbaring dan memikirkan bagaimana strategi menjebak suara aneh itu.
“Aneh, orang penakut seperti saya berkejaran dengan suara misterius dan itu pasti bukan suara manusia” Ia heran bukan hanya dengan suara itu, tetapi heran dengan dirinya sendiri. Sebagaimana hukum kejiwaan, orang yang tenang maka akan lebih bisa berpikiran logis. Ketika kembali terdengar suara misterius itu, ia tidak mau main kucing-kucingan seperti yang telah dilakukan. Ia bertanya “Siapa ?” Suara itu hilang. Terdengar lagi “Siapaa?” Suara itu hilang lagi. Terdengar lagi. “SIAPA?” Hilang. Terdengar. “SIAPAAAA!?” Hilang agak lama. Ia melihat jam. Setengah empat. Hanya sepuluh menit waktu tanpa ada aksi dan reaksi. Karena ternyata suara itu muncul lagi. Kali ini lebih pelan dan frekwensi agak jarang, namun dengan durasi yang lebih panjang.
Ia memutuskan untuk keluar. Dengan sangat pelan, tubuh digeser pada pinggir ranjang. Kaki kiri dijulurkan sampai menyentuh lantai kemudian disusul kaki kanan tanpa menimbulkan suara. Bahkan ketika ia mengangkat kepala, tangan, dan badan sebisa mungkin jangan sampai ada sendi tulang yang berbunyi. Langkahnya seperti berjalan di kandang ayam. Takut ada tahi ayam yang terinjak. Jikapun terinjak, tahi ayam tidak menjadi hancur dan berubah bentuk. Jikapun berubah bentuk tidak sempat masuk disela-sela jari kaki. Pelan dibuka pintu kamar. Untung tidak ditutup rapat, sehingga dengan dorongan tanpa bunyi, pintu itu bisa terbuka. Suara misterius masih terdengar ketika langkahnya sampai di pintu ruang tamu. Disibakannya kain horden. Ia mengintip ke luar. Suara misterius belum berhenti. Ia tidak melihat apa-apa. Sepatu, sandal, payung, helm, jas hujan masih seperti semula. Berantakan. Bunga, pot tanaman, kandang burung, posisi gembok pagar dan semua yang sempat tertatap juga masih seperti sediakala.
Pelan-pelan dibuka pintu. Dipaskannya lobang pintu dengan ukuran kepala, sehingga ia bisa dengan jelas melihat keadaan di luar. Tangan kanan masih keras memegang tarikan pintu, mengantisipasi sesuatu hal sehingga dengan cepat pintu bisa ditutup dan dikunci kembali. Tidak ada sesuatupun informasi yang bisa menjelaskan dari mana datangnya suara misterius itu. Selama melongok dari sela-sela pintu ia mendengar empat kali, namun belum ada alasan untuk mengajukan pertanyaan “siapa” seperti yang beberapa kali ia lakukan dari dalam kamar. Dalam hatinya jika suara itu muncul sekali lagi, ia akan beranikan diri untuk bertanya, langsung dengan pertanyaan keras, membentak, mengancam, memaki ...
Satu menit, dua menit, tiga menit ditunggu, masih sepi. Beberapa saat kemudian, ia tidak sabar menunggu suara misterius muncul, lalu memberanikan diri untuk bertanya, “Siapa sebenarnya, ya...!”
Tanpa diduga sebelumnya, sebuah jawaban terdengar “Saya. Ada apa?”
Bukan hanya suara, tapi orangnya sangat jelas. Ia berdiri tepat di depan pintu pagar sambil melempar senyum keheranan.
“Oh. Pak Haji. Maaf, saya dari tadi mendengar suara ....” ia menjawab tergagap
“Suara apa, saya barusan lewat disini tidak aada apa-apa. Mimpi kali... Udah, ambil wudhu sana, kita ke masjid” kata Pak Haji ‘Alim sambil berjalan menuju ke arah masjid.
Dipandanginya langkah Pak Haji ‘Alim sampai tenggelam dalam kegelapan pagi. “Rupa-rupanya tidak ada apa-apa. Tapi suara apa yang tadi saya dengar? Ah. Mungkin benar kata Pak Haji, saya hanya bermimpi. Tapi kok saya ada di sini? Aneh...” Ia berkata sendiri sambil mencari jawaban. Tentu saja tidak ada jawaban, karena pertanyaanya juga tidak jelas. “Memang tidak jelas...” katanya sambil menutup pintu. Brak!
Dibantingnya pantat di kursi tamu. Ia duduk sambil memikirkan serangkain kejadian beberapa saat lalu dan apa yang harus dilakukan. Tidak ada penilaian dan interpretasi atas peristiwa itu. Semua yang digelisahkan selalu tanpa ujung kejelasan. Penjelasannya adalah ketidakjelasan. “Uuuuhhhhh...” Ia melenguh panjang.
Dari masjid di kompleks sebelah terdengar adzan. Disusul masjid Mu’minin di seberang jembatan, disusul mesjid jauh, disusul lagi disusul lagi. Entah mesjid mana, tidak tahu. Ada yang bersamaan. “Tapi mesjid kita kok belum ada orang adzan? Padahal Haji ‘Alim sudah pergi beberapa saat yang lalu. Ada baiknya saya ke mesjid” katanya sambil beranjak dari sofa.
Sampai di masjid ada satu orang berpakaian serba putih, duduk di bawah lampu. Satu satunya lampu yang hidup. Tanggannya memegang tasbih yang juga berwarna putih. Berkilau seperti mutiara. Beberapa kali terdengar lafal dzikir yang dikeraskan. Sambil lewat, secara sepintas ia memandang wajahnya. Bahkan sempat bertatapan dan saling mengangguk. Bukan Haji ‘Alim. “Lho kemana orang itu. Pantas belum ada adzan” ia berkata dalam hati. Dengan langkah pasti ia menuju tempat pengeras suara. “Lho amplinya sudah hidup...?” Ia membatin heran. Tidak dipedulikan siapa yang menghidupkan, ia menuju mic. Diketoknya pelan untuk memastikan bahwa sound system sudah berfungsi. Terdengar suara corong bunyi ketukan. Iapun menarik nafas panjang. Satu tangan sudah menempel di telinga, satu tangan memegang mic. Belum lagi selesai persiapan nafas, bahu kirinya dicolek. “Sudah ada yang adzan, Dik..” Kata orang berbaju putih.
Ada empat rasa kaget bercampur jadi satu. Kaget pertama adalah tiba-tiba ada orang di belakangnya. Kaget kedua soal bubarnya konsentrasi akibat colekan. Kaget ketiga, betulkah sudah ada yang adzan?. Belum lagi sempurna merumuskan tiga kaget, orang itu malah mengumandangkan komat. Ini adalah kaget keempat yang luar biasa. Harus jadi imam. Dan shalat subuh di sini harus pakai Qunut, yang tidak biasa ia lakukan.
Iapun memimpin shalat, dengan hanya satu ma’mum. Dari takbir sampai tahyat akhir tidak terdengar ada langkah orang datang menyusul menjadi masbuk. Menjelang salam, ia merasa tenang karena tidak ada masalah selama menjadi imam. Namun ketenangan itu hanya sebentar. Ketika ia mengucapkan salam dan menoleh ke kanan, ia melihat baris sebelah kanan penuh dengan orang berbaju putih-putih. Iapun cepat-cepat mengucapkan salam kedua. Ketika menoleh ke kiri, sama juga. Penuh dengan orang berbaju putih. Bahkan ketika menoleh ke belakang, satu masjid penuh dengan orang berbaju dan berkopiah putih.
“Saya tidak boleh pingsan” katanya menguatkan diri.
Dan benar, ia memang tidak ada waktu untuk pingsan. Beberapa saat setelah shalat, semua orang berbaju putih itu berdiri, sehingga iapun mengikuti, tanpa mengetahui maksudnya. Beberapa saat kemudian satu orang maju dan menyodorkan tangan untuk bersalaman. Iapun menyambut. Ia menjadi paham, karena setelah satu bersalaman, yang lain juga melakukan hal yang sama. Bersalaman dan mencium tangan. Anehnya, mereka tidak bersalaman sesama mereka. Lebih aneh, ia tidak mengetahui kemana mereka pergi. Hilang digulung embun pagi.
Namun karena dari mulai bangun tidur sudah terlalu terlalu banyak mendapati hal-hal yang aneh dan mengejutkan, peristiwa itu dianggap tidak terlalu makan pikiran. Iapun pulang dengan tanpa beban. Bahkan ia masih sempat menutup pintu dan mematikan lampu masjid. Tentu saja harus berkeliling, karena mesjid memiliki empat pintu. Dua di depan dan dua di kanan dan kiri.
Langit ujung timur sudah mulai memerah. Ia agak tenang karena sebentar lagi siang dan tentu saja banyak orang. Keinginannya hanya satu setelah sampai di rumah. Tidur. Melupakan mimpi seperti kata Pak Haji ‘Alim. Walau Haji ‘Alim sebenarnya tidak sportif. Mengatakan orang bermimpi, tapi ia ada dalam mimpinya. Mengajak ke masjid, tapi beliau sendiri tidak ada. Dasar mimpi .... Tapi bisakah dengan tidur bisa lupa dengan mimpi? Bukankah mimpi terjadi pada saat tidur? Ah, masa bodo amat!
Dari jauh ia melihat lampu dapur sudah dinyalakan. Aktifitas manusia yang pertama adalah di belakang. Lampu samping dan depan rumah sudah dimatikan. Salah satu orang di rumah tentu sudah ada yang bangun.
“Di sini. Seperti ini. Begini” Ia menirukan posisi Haji ‘Alim ketika mau membuka pintu pagar. “Akh, dasar ...” ketusnya pelan sambil menutup pintu pagar. Iapun berjalan menuju teras. Belum menginjakkan kaki di tangga, ia melihat kain kafan bertuliskan:
“Ini bukan mimpi, walau tidak bisa disebut kejadian sebenarnya. Suara yang Abang dengar seperti orang mendesis adalah suara kain ini yang bergesekan. Abang jangan kaget. Adik hanya mengingatkan, karena yang selalu Abang pikirkan ketika melihat jam dinding yang Laila kasih adalah nostalgianya. Bukan fungsi yang sebenarnya. Mengingatkan waktu. Salam. Laila”.
Sampai di sini, ia benar-benar pingsan!

Pontianak, Awal April 2006

Tidak ada komentar: