Iman Jaladri
Obat hati ada lima, demikian syair lagu Opik. Dari lima obat hati, hanya satu yang secara praktek harus menyertakan orang lain. Sementara obat hati yang lain bisa dilakukan dengan tanpa syarat. Obat hati tersebut adalah berkumpulah dengan orang shaleh. Asal mau, maka bisa dilakukan kapan saja. Namun untuk dapat bekumpul dengan orang shaleh agak berat, karena definisi orang shaleh seringkali subyektif. Shaleh menurut kita, tidak menurut orang. Sebaliknya menurut banyak orang diangap shaleh, menurut kita seballiknya. Bahkan saat ini jangan-jangan memang sangat sulit untuk menemukan orang shaleh.
Berkumpul dengan orang shaleh menjadi obat hati dengan syarat jika setelah berkumpul ada “bekas” di hati kita sehingga perasaan lebih optimis, bisa lebih jernih melihat batas kebaikan dan keburukan serta bertambah semangat untuk melakukan kebaikan.
Namun demikian, untuk mewujudkan bekas di hati sehingga lebih jernih, ada beberapa hal sehingga pertemuan dengan orang lain bisa menjadikan obat hati, diantaranya:
1. Kurangi ungkapan “…menurut saya…”
Kata-kata “menurut saya”, cenderung mempunyai banyak kelemahan. “Saya” adalah keakuan yang jika dikaji lebih dalam adalah benda kosong. “Saya” pada waktu bayi bahkan tidak tahu apa-apa. Jika saat ini “saya” bisa mengetahui beberapa hal, yakinlah bahwa itu hanya beberapa saja, atau sangat sedikit dan bahkan belum tentu benar.
“Menurut saya” sebaiknya diganti dengan dalil, pendapat ulama atau kisah-kisah yang mengandung hikmah. Orang yang terlalu sering mengatakan “menurut saya” bukan malah menunjukkan keluasan pengetahuan, tapi malah sebaliknya. Hadist Nabi: “… Dan Allah juga tidak menyukai tiga perkara yaitu; banyak bicara, banyak bertanya serta menyia-nyiakan harta” (HR Buhori dan Muslim)
2. Kurangi pembicaraan yang mengarah pada ghibah
Nabi Muhammad Saw menerangkan makna ghibah (menggunjing) dalam sabdanya :
"Tahukah kalian apakah ghibah itu? "Mereka menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. "Beliau bersabda: "Yaitu engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya". Ditanyakan: "Bagaimana halnya jika apa yang aku katakan itu (memang) terdapat pada saudaraku? "Beliau menjawab: "Jika apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu, maka engkau telah menggunjingnya (melakukan ghibah) dan jika ia tidak terdapat padanya maka engkau telah berdusta atasnya". (HR Muslim).
3. Menjadi pendegar yang baik
Tidak bisa dibayangkan jika dalam sebuah pembicaraan teryata tidak ada yang mau menjadi pendengar. Pihak yang satu akan mengeraskan suara agar didengar. Dan pihak yang lain akan melakukannya dengan lebih keras untuk mengimbangi kerasnya suara lawan bicara. Seterusnya, sehingga siapa yang keras itulah yang ada kemungkinan dapat didengar.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (QS 103:2-3).
Dari Abu Hurairah "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya".
4. Berusaha membuat kesimpulan
Seringkali, pembicaraan satu masalah tidak bisa disimpulkan karena apa yang dikatakan selalu melebar kemana-mana. Satu masalah belum selesai, kemudian pindah masalah lain. Jika suasana pertemuan (pembicaraan) terjadi demikian, tentu bukan obat hati yang didapat, tetapi racun hati. Kita tidak mendapatkan apa-apa, tapi malah membuat bingung.
Jika pada akhir pembicaraan terjadi perbedaan maka kesimpulan tidak perlu dipaksakan untuk sama. Satu hal yang sangat berat adalah mengakui bahwa yang dikatakan orang adalah benar. Masing-masing membawa kesimpulan lawan diskusi kemudian mencari sumber dan nazabnya sehingga bisa saling melengkapi. Pada pertemuan selenjutnya, insya Allah suasana pertemuan akan lebih baik.
Sabda Nabi SAW “…. Sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah binasa karena mereka banyak bertanya dan berselisih dengan nabi-nabinya. Maka apabila aku memerintahkan sesuatu kepada kamu sekalian, laksanakanlah sesuai dengan kemampuanmu dan jika aku melarang sesuatu kepada kamu sekalian, janganlah kamu kerjakan!” (HR Muslim)
5. Ucapkan wallauhu’alam
Nabi Musa, pada jamannya ditanya oleh pengikutnya: “Wahai Musa, apakah tidak ada orang lain yang lebih pintar darimu?”. Saat itu Musa menjawab: “Tidak”. Kemudian dari jawaban itu Allah menegur atas kekeliruannya itu dengan menyuruhnya menemui seseorang. Seseorang itu adalah Nabi Khaidir. (Shaheh Buhori, Bab 17).
Beliau bersabda: Seekor burung terbang lalu hinggap pada tepi perahu itu dan mematuk ke laut. Khidhir lalu berkata kepadanya: Ilmu kita jika dibandingkan dengan ilmu Allah adalah seperti patukan seekor burung pipit tersebut pada laut itu. Wallahu’alam bisawab.
Anak-anak
Ical, Nadia, Kahfi
Jumat, 25 Januari 2008
Langganan:
Postingan (Atom)